Sabtu, 04 Agustus 2012

Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) dalam Pembelajaran


Metode ini diprogramkan pemerintah RI mulai tahun 1974. Regu yang dipimpin oleh Dr. A.S. Broto pada waktu itu telah menghasilkan Metode SAS. Menurut A.S. Broto khususnya disediakan untuk belajar membaca dan menulis permulaan di kelas permulaan SD/MI. Lebih luas lagi Metode SAS dapat dipergunakan dalam berbagai bidang pengajaran. Dalam proses operasionalnya metode SAS mempunyai langkah-langkah berlandaskan operasional dengan urutan : Struktural menampilkan keseluruhan; Analitik melakukan proses penguraian; Sintetik melakukan penggabungan kembali kepada bentuk Struktural semula. Landasan linguistiknya bahwa itu ucapan bukan tulisan, unsur bahasa dalam metode ini ialah kalimat; bahwa bahasa Indonesia mempunyai struktur tersendiri. Landasan pedagogiknya; (1) mengembangkan potensi dan pengalaman anak, (2) membimbing anak menemukan jawab suatu masalah. Landasan psikologisnya : bahwa pengamatan pertama bersifat global (totalitas) dan bahwa anak usia sekolah memiliki sifat melit (ingin tahu).

Prosedur penggunaan Metode SAS :
1.   Mula membaca permulaan dijadikan dua bagian
Bagian pertama Membaca permulaan tanpa buku
Bagian kedua Membaca permulaan buku
2. Merekam bahasa anak melalui pertanyaan-pertanyaan dari pengajar sebagai kontak permulaan.
3. Menampilkan gambar sambil bercerita. Setiap kali gambar diperlihatkan, muncullah kalimat anak-anak yang sesuai dengan gambar.
4. Membaca kalimat secara structural
5. Membaca permulaan dengan buku
6. Membaca lanjutan
7. Membaca dalam hati

Segi baiknya :
a.       Metode ini dapat sebagai landasan berpikir analisis.
b.    Dengan langkah-langkah yang diatur sedemikian rupa membuat anak mudah mengikuti prosedur dan akan dapat cepat membaca pada kesempatan berikutnya.
c.       Berdasarkan landasan linguistik metode ini akan menolong anak. menguasai bacaan dengan lancar.

Segi lemahnya :
1)      Metode SAS mempunyai kesan bahwa pengajar harus kreatif dan terampil serta sabar
Tuntutan semacam ini dipandang sangat sukar untuk kondisi pengajar saat ini.
2)   Banyak sarana yang harus dipersiapkan untuk pelaksanaan metode ini untuk sekolah sekolah tertentu dirasa sukar.
3)      Metode SAS hanya untuk konsumen pembelajar di perkotaan dan tidak di pedesaan
4)    Oleh karena agak sukar menganjarkan para pengajar metode SAS maka di sana-sini metode ini tidak dilaksanakan.

Teknik pelaksanaan Metode SAS ialah keterampilan memilih kata, kartu kata dan kartu kalimat. Sementara anak-anak mencari huruf, suku kata, kata., pengajar dengan sebagian anak yang lain. Menempel-empelkan kata kata yang tersusun menjadi kalimat yang berarti. Begitu seterusnya sehingga semua anak mendapat giliran untuk menyusun kalimat, membacanya dan yang paling mengutpnya sebagai ketreampilan menulis. Media lain selain papan tulis, papan panel, papn tali, OHP (Over Head Projector) dapat juga digunakan.

Pengertian Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS)
Menurut Supriyadi (1996), pengertian metode SAS adalah suatu pendekatan cerita yang disertai dengan gambar, yang didalamnya terkandung unsur struktur analitik sintetik. Metode SAS menurut Djauzak (1996) adalah suatu metode pembelajaran menulis permulaan yang didasarkan atas pendekatan cerita yakni cara memulai mengajar menulis dengan menampilkan cerita yang diambil dari dialog siswa dan guru atau siswa dengan siswa.

Teknik pelaksanaan pembelajaran metode SAS yakni keterampilan menulis huruf, kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat. Proses operasional metode SAS mempunyai langkah-angkah dengan urutan sebagai berikut :
(1) Struktur yaitu menampilkan keseluruhan,
(2) Analitik yaitu melakukan proses penguraian,
(3) Sintetik yaitu melakukan penggabungan pada struktur semula.

Demikian langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pembelajaran menulis permulaan dengan metode SAS, sehingga hasil belajar itu benar-benar menghasilkan Struktur Analitik Statis. (Subana : 176).

Kegiatan pembelajaran menulis permulaan dengan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.  Guru bercerita atau berdialog dengan siswa.
2.  Memperlihatkan ambar yang berhubungan dengan isi cerita.
3.  Menulis beberapa kalimat sebagai kesimpulan dari isi cerita.
4.  Menulis satu kalimat yangd iambil dari isi cerita.
5.  Menulis kata-kata sebagai uraian dari kalimat.
6.  Menulis suku-suku kata sebagai uraian dari kata-kata.
7.  Menuliskan huruf–huruf sebagai uraian dari suku-suku kata.
8.  Mensintesiskan huruf-huruf menjadi suku-suku kata.
9.  Menyatukan kata-kata menjadi kalimat.

Agar siswa memiliki kemampuan menulis, maka setiap langkah tersebut
dilakukan oleh siswa dengan cara menyalin tulisan yang ditulis guru dalam setiap
langkah pembelajaran.

Demikian langkah-langkah yang dilakukan dalam menulis permulaan dengan metode SAS sehingga hasil belajar ini benar-benar menghasilkan struktur analitik sintetik.

Bagaimana menunjukkan bahwa untuk menentukan jenis tulisan yang harus diajarkan pada saat siswa belajar menulis permulaan bukan pekerjaan yang sederhana. Guru harus dapat menentukan jenis tulisanyangakandiajarkan.

Menurut Hagin (Lovitt,1 989 : 227), ada lima alas an perlunya diajar menulis huruf cetak lebih dulu pada awal belajar menulis :
1.  Huruf cetak lebih mudah dipelajari karena bentuknya sederhana.
2.  Buku-buku menggunakan huruf cetak sehingga anak-anak tidak perlu mengakomodasikan dua bentuk tulisan.
3.  Tulisan dengan huruf cetak lebih mudah dibaca daripada tulisan dengan huruf
sambung.
4.  Kata-kata yang ditulis dengan huruf cetak lebih mudah dieja karena huruf-huruf
tersebut berdiri sendiri-sendiri.


Dengan memperhatikan berbagai alasan tersebut di atas maka alangkah baiknya pada awal belajar 
menulis  ini siswa diajar menulis dengan menggunakan huruf cetak lebih dulu.

Contoh penerapan metode SAS :

ini       bola      adi

bola

bo   la

b   o   l   a

bo   la

bola

ini       bola      adi


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar